
I thought before I know…
“aku pergi dulu…!!!” Bless berteriak lantang sambil melangkah pergi dari kerumunan teman-temannya. Tumpukan buku-buku tebal membuatnya sukses mengutuk dosen mr. Lee yang menyuruhnya tanpa ampun mengerjakan tugas-tugas pengamatan cultural.
Jalannya agak tergesa-gesa mengingat jam 3.pm perpustakaan akan tutup jadi dia mempercepat langkahnya ke gudang buku itu. Sesampai disana dia langsung menghambur seluruh isi tasnya diatas meja.
Bless membiarkan semua barangnya ditempat, kemudian menyusuri lorong-lorong penuh buku-buku bodoh yang disuruh mr. Lee
“aku bersumpah. Sampai dia berani mencoret seenaknya semua perjuangan ku lagi! Akan ku telan dia bulat-bulat!” bless memaki dosen yang sudah membuatnya nyaris gila dengan tugas rodi ini.
Makin Bless memikirkan tugas ini, makin membuatnya hilang kesadaran. Akhirnya ….
Dia pun membanting tumpukan 3 buku tebal yang semula bertenger manis di tangannya sekarang sudah tak terbentuk akibat bantingan penuh tenaga oleh Bless. Dia tahu setelah ini mrs. Veronica akan memarahinya karena sudah merusak barang-barang perpustakaan.
Brakhh!!! “ I don’t care!!!” geramnya sedikit berteriak
“aghh!!!” suara rintihan tampak mengerang kesakitan karena bantingan buku-buku tebal tadi menimpa kaki seseorang.
Bless mendongkakan kepalanya mencari tahu siapa pemilik suara yang kesakitan itu. Perlahan-lahan matanya menyusuri kaki jenjangnya- berlanjut ke celana coklat yang ia kenakan, mata nya pergi mengamati dada yang naik turun karena hirupan nafas yang berat. Sampai akhirnya Bless membelalakan matanya, bola mata hitamnya mendapati wajah yang sudah lama dikagumi olehnya
Oh damn…
“J-Jae… JaeJoong…” suaranya terbata “mmm maksudku… oppa…”
“…agh..!!!”
“mbianata…” Bless menunduk serendah mungkin tanpa berani melihat wajah JaeJoong.
“jika kamu punya masalah dengan mr. Lee aku bisa membantu asal jangan sampai kamu mencederai ku, Bless…” katanya selembut mungkin, sementara Bless masih menikmati posisi bungkuknya langsung menegakkan tubuhnya lalu memberi tatapan tak percaya.
“oppa… tahu dari mana?” Tanya Bless
JaeJoong mendehem pelan “ ya tentu aku tahu, karena….” JaeJoong diam, ujung matanya mengawasi reaksi Bless “sudahlah tidak penting…” JaeJoong berdalih sambil memunggut buku-buku tadi
Bless pun membantu JaeJoong dan menunduk lagi “ oppa… mianhae tadi-“
“kwenchana…” potong JaeJoong sambil tersenyum membuat Bless merasakan aliran darahnya membakar wajahnya yang sudah bersemu merah.
“bagaimana kalau aku membantumu…” kata JaeJoong menawarkan diri
Sudah kesekian kalinya Bless kaget karena kata-kata pria yang di panggil JaeJoong ini “hah??!!”
“aku mau membantumu mengerjakan tugas ini” ulangnya
“hah..??!”
“ya… setidaknya bantuan ku bisa sedikit meringankan mu”
“hah..??!!!”
“yah…!!!” seru JaeJoong “kenapa hah-hah terus, aku bilang aku mau membantumu…” JaeJoong mulai gemas sambil memberi tatapan mematikannya pada Bless.
“ah… aku hanya kaget… apa benar mau membantu ku…??” Bless berusaha memastikannya “permasalahannya seluruh tugas mr. Lee itu bukan bahan yang mudah…”
JaeJoong mengangguk keras “aku berrr-sediaaa” dia menekankan kalimat terakhirnya
>>
Jam baru saja berdentang menunjukan pukul 6.pm Bless sedikit melirik tangan kirinya. Di depannya JaeJoong masih sibuk dengan sebuah laptop tampak mengetik bahan laporan untuk mr. Lee. Tanpa disadarinya ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis, diam-diam mengagumi sosok berkulit putih pucat di hadapannya.
“yah…! Bless ada apa menatapku??” JaeJoong membuyarkan pemandangan surga Bless terhadapnya.
Sedikit gugup Bless berusaha bersikap netral tapi sangat sulit baginya berlaku biasa apalagi kini JaeJoong sudah tak ditempat sebelumnya …
Tapi kini… JaeJoong berjalan mendekat menantang posisi yang mulai dirasakan tak nyaman lagi. Dengan cepat Bless menyahut keras tidak biasa “anio!!!”
Perfect! Apalagi sekarang! Huh? Rutuk Bless dalam hati, sekarang pria berambut dark brown itu sudah disisinya menatap dengan pandangan berarti yang tak bisa dijelaskan olehnya. Susah payah Bless menelan ludah menstabilkan detakan jantung yang mulai tak bersahabat dengannya.
Mata JaeJoong menjelajahi lekukkan wajah yang terpahat sempurna oleh sang Pencipta. Sambil menggigit bibir wajahnya JaeJoong berkata “ Bless….” JaeJoong melepas kata-kata penuh keraguan sampai “ ayokitaberkencan!” kata JaeJoong cepat
Butuh sepersekian detik kalimat JaeJoong dicerna baik oleh Bless. “heh…?” Bless mengangkat keningnya
JaeJoong menarik napas panjang “aku akan mengulanginya tapi tidak akan untuk ketiga kalinya jadi dengar baik-baik…”
JaeJoong mendesah pasrah sampai “ aku mau kita berkencan, Bless…” JaeJoong menunduk dengan wajah yang sudah memerah.
Tak ada sahutan dari mulut Bless. Perlahan-lahan JaeJoong mendongkak penuh ketakutan tapi yang didapati dirinya, sebuah senyuman hangat yang ditujukan untuknya.
Bless tersenyum padanya.
“nde… oppa…” jawab Bless pelan.
Yay! Bless setuju, thank God …! Batin JaeJoong sambil menggenggam kedua tangannya.
“kamu setuju…?” JaeJoong memastikan sambil menerima anggukan Bless yang tampak tak ragu menerima ajakannya
“apa yang setuju?” Bless tahu benar pemilik suara ini
Bless memutar kepalanya mencari arah suara itu, blam!
Shim ChangMin sedang berdiri garang sambil memasang tampang ganas terbaiknya kepada JaeJoong tampak melakukan hal yang sama.
“Bless aku tak mau kau melupakan pertemuan kedua orang tua kita besok” kata ChangMin berjalan mendekati Bless.
Dengan emosi tertahan Bless berkata “ ChangMin berapa kali harus kubilang aku tidak mau perjodohan ini berlanjut…”
Saat ini JaeJoong kaget setengah mati dia memandang Bless tak percaya “tunggu…” seru JaeJoong “perjodohan…???”
Seakan baru menyadari perkataannya sendiri Bless langsung membekap mulutnya sambil melotot kearah ChangMin yang sedikit terkikih melihat Bless tidak bisa berkutik “perjodohan…” JaeJoong mengulang kata-katanya berusaha meminta penjelasan
“oppa… aku bisa menjelaskannya…” ujar Bless sedikit terbata
“kalian berdua dijodohkan?” kali ini intonasi JaeJoong sedikit naik pikirannya tidak bisa menerima apa yang baru saja didengar
“ya…” dengan cepat ChangMin menyela perkataan JaeJoong ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman sinis “aku dan Bless dijodohkan… keluarga kami pun telah menyetujuinya mung-“
“ya! Hentikan mulutmu itu shim ChangMin!!!”
“kenapa Bless! Cepat atau lambat orang lain akan mengetahuinya juga, untuk apa disembunyikan…” sahut ChangMin menyeimbangi suara lantang Bless.
Bless tidak henti-hentinya melemparkan death glare kepada ChangMin. Tapi yang bersangkutan tampak cuek, terus saja masih dengan senyuman sinis yang menyebalkan itu.
“atau karena pria ini kau menyembunyikannya?? Hmm?” nada bicara ChangMin mulai terdengar menantangnya. Bless sebisa mungkin menahan diri agar tak lepas kontrol
“apa jangan-jangan pria ini yang membuatmu tak mau mengakuinya”
Bless diam.
“apa ini yang namanya kim JaeJoong” ChangMin memutar matanya menatap JaeJoong “orang yang membuatmu jatuh cinta…?”
“kau-“
JaeJoong tertunduk sedikit menelan ludah. Pikiran Bless kacau balau, dia tidak mau JaeJoong mengetahui perasaannya dengan cara seperti ini. Apalagi JaeJoong sudah mengetahui perjodohannya dengan ChangMin.
“oppa…” panggil Bless memberanikan diri “aku bisa…”
Tiba-tiba telunjuk jenjang JaeJoong menempel di belahan bibir Bless sambil menatapnya dengan pandangan berbinar “jangan lupa kencan kita besok ada yang ingin ku bicarakan denganmu…” katanya “ ini mengenai kau, Bless.” Tambahnya lagi
JaeJoong memutar tubuhnya meninggalkan Bless yang berdiri kaku menatap punggung JaeJoong perlahan-lahan hilang di balik pintu.
Suasana tiba-tiba hening. Hanya dia dan ChangMin disitu sampai Bless akhirnya berteriak “you fucking fucker bastard!!!” tarikan napas Bless makin tak seimbang “kenapa kau!!! Aghhh!!!! Pabo!!” Bless memaki tak terkendali lalu berlari ke kamarnya meninggalkan ChangMin di lantai bawah.
“Bless… jangan lupa pertemuan keluarga kita besok”
“what the hell you say!!! I don’t care!!!” suara Bless mengema seluruh ruangan. Sementara ChangMin sendiri hanya bisa mengeleng-geleng geli menanggapi sikap Bless.
Tbc

Tidak ada komentar:
Posting Komentar