
Apa pun caranya Bless tak sanggup menutup kedua matanya malam itu otak kanannya terus berputar mengingat kejadian tadi. Mungkin tak ada kebahagiaan selain bersama dengan orang yang kita sayang. Bless melempar pandangannya keseluruh kamar adik JaeJoong,
Beberapa pajangan foto-foto pribadi Soo Young berjejer manis diatas rak merah jambu. Diantaranya ada foto kekasihnya, JaeJoong. Kembali senyuman menghiasi ujung bibirnya mendapati gambar JaeJoong bersama adiknya. Sungguh lucu.
Jam baru saja berdentang pukul 12 tengah malam. Tapi tanda-tanda kantuk belum juga didapatinya apalagi hujan sudah berhenti hanya suara rintik-rintik saling bersahutan di malam penuh kesunyian itu.
Terlintas dibenak Bless untuk memanjakan mata sebelum kantuk menderanya sebentar lagi. Dia berjalan ketepi jendela, perlahan tangannya membuka kaitan jendela lalu membukanya besar-besar membiarkan angin malam menerpa wajahnya.
Dibalkon samar-samar terdengar alunan musik klasik yang dimainkan oleh seseorang. Nadanya terdengar sangat indah masuk kedalam relung hatinya. Sambil menutup mata Bless mencoba mendalami apa maksud dari alunan nada yang tampak begitu melodis senada dengan malam ini. Bahkan petikan-petikan senar piano serasa begitu sempurna bagi Bless.
Bagai dituntun sesuatu Bless berjalan mencari nada-nada yang terbentuk sempurna oleh petikan seseorang yang sangat ahli mempermainkan setiap petikan nada. Langkahnya menuruni tangga perlahan tapi pasti dia akhirnya mengetahui siapa yang sedang bermain piano.
Seorang pria bermata hitam kelam yang melakukanya, JaeJoong. Nada-nada yang terbentuk tercipta dengan sempurna menambahkan suatu gejolak aneh pada diri Bless saat matanya mendapati JaeJoong menutup mata menikmati alunan yang dibuatnya sendiri
“oppa…”
Jari-jari lentik itu terhenti, JaeJoong membuka matanya memandangi Bless. Raut kekaguman tak bisa disembunyikannya.
“kau bisa bermain piano…??”
JaeJoong berdiri menghampirinya tak membalas pertanyaan Bless. Dia menarik perlahan wanita itu dan menuntunnya kepangkuan JaeJoong. Bless hanya terdiam sambil menatap sepasang mata itu.
Kini JaeJoong menghantar tangan Bless menyentuh setiap tuts putih membuat tekanan pada setiap melodi nada menghasilkan sebuah alunan indah. Hangatnya tangan JaeJoong sanggup membuat sang wanita tak bisa berkata-kata hanya nada-nada yang mungkin dapat mewakili setiap perasaannya.
Tarikan nafas JaeJoong terasa sangat menggelitik telinga kanannya ditambah sebuah ciuman mendarat pada tengkuk lehernya. Bless menelan ludahnya berusaha menetralkan keringat dingin yang mulai membasahi keningnya.
“sebuah piano…”
JaeJoong melingkarkan tangan kirinya diperut Bless. Sementara tangan kanannya terus membawa tangan Bless menjamah tuts-tuts putih didepannya.
“setiap nada yang dihasilkan…”
Dagu JaeJoong bersandar diantara leher Bless. Sehingga jarak antara Bless sudah tak ada yang menghalangi hanya helaan nafas kekasihnya dapat dirasakan dengan jelas.
“dapat mewakili setiap perasaan…”
JaeJoong makin mempererat pelukan manjanya.
“seperti anak kecil yang polos…”
JaeJoong kembali menuntun tangan kecil itu membagi tempat pada alunan klasik yang dihasilkan.
“yang tak tahu menyampaikan perasaan…”
JaeJoong kembali mengecup Bless tapi bukan ditengkuk leher melainkan pipinya yang sudah terlanjur merah padam.
“bagai sebuah piano yang bisa menghasilkan nada mewakili perasaan, tanpa harus berkata…”
“…”
….
JaeJoong menjilat daun telinga menghasilkan getaran klasik membuatnya terlonjak hebat menahan sebuah sensasi hebat dari pria yang ada dibelakangnya. JaeJoong.
Dia juga masih sadar saat tangan kiri JaeJoong menuntun wajahnya menghadap kebelakang dan saling berhadapan dengan JaeJoong. Mungkin respon yang didapatinya masih belum membuatnya sadar jika belaian lembut diantara bibirnya adalah sebuah ciuman kedua yang dia dapati tanpa sadar. Apalagi hal ini terjadi pada hari yang sama bersama dengan orang yang sama pula.
Pada akhirnya Bless memberanikan diri melingkarkan tangannya dileher pria berkulit porselen tanpa sedikit pun melepas ciuman. Walau ini sudah tak masuk akal tapi semuanya seakan sudah mencapai titik dimana ‘aku memikinya’ telah tersugesti pasti diotak mereka.
JaeJoong melumat habis daging lembut yang dirasakan membangkitkan sinyal aneh pada otak kanannya. Dia terus menyapu tanpa memberi sedikit pun kesempatan pada wanita yang tampak tak sanggup meladeni permainan JaeJoong.
JaeJoong mempermainkan ujung lidahnya menyapu dinding-dinding rongga mulut Bless memaksa masuk seakan mengajak lidah Bless bermain-main sebentar antara lidahnya. Peraduan mulut dan melumernya saliva diujung mulut mereka dapat menunjukan betapa hebat sebuah permainan JaeJoong.
JaeJoong terus menekan bibirnya ingin mengajak lidah Bless terus-menerus bermain. Tanpa arahan Bless kini nekat membanting semua permainan lidah JaeJoong. Tanpa mereka sadari keduanya sudah terbantin disebelah piano.
Tangannya mulai aktif meremas-remas punggung Bless tanpa ampun. Bless sendiri sudah kehabisan nafas meladeninya.
Perlahan-lahan JaeJoong melepas ciuman panjang itu sambil menarik banyak oksigen yang habis diantara peraduan bibir. Ketika kancing atas Bless sudah terlepas menampakan dada yang nyaris terbuka. JaeJoong sadar perbuatanya hampir mengahancurkan masa depan Bless.
“mbian…” kata JaeJoong sambil tertunduk tak mampu menatap kekasihnya. “aku tak bermaksud ,aku hanya terbawa suasana, mian Bless…”
Bless memegang dagu JaeJoong menatap dirinya. “tidak apa oppa… aku mengerti…”
Tatapan JaeJoong meredup. Bajunya bahkan sudah tidak terbentuk akibat kejadian tadi.
“terima kasih sudah memikirkan ku…”
JaeJoong memeluk Bless bukan dengan nafsu tapi cinta yang terpendam sejak lama. Pelukan segenap hati dari seorang kim JaeJoong.
>>
Paginya Bless diantar JaeJoong kembali kerumah. Bless tak menggubris kehadiran ChangMin yang semalaman menunggunya pulang.
ChangMin berdiri garang menatap Bless tajam sesudah JaeJoong menghantarnya. “adri mana saja kamu… kenapa baru pulang…???” kata ChangMin penuh intimidasi.
“bukan urusan mu…!!!” sahut Bless lalu berlari kekamarnya.
“Bless!!!” ChangMin menarik kasar Bless sehingga tubuhnya tersandar pada ChangMin. Membuat jarak antara dirinya dan ChangMin hanya beberapa sentimeter.
“lepaskan aku bodoh…!!!”
“apa salahku sampai kau sungguh membenciku…!!!” sambar ChangMin, matanya melotot.
“kau mau tahu apa salahmu sampai aku sungguh membencimu?? Huh…??” tantang Bless dihadapan ChangMin. “berhentilah mengawasiku… dan batalkan pertunangan bodoh ini…!!!”
ChangMin dengan kuat meremas tangan Bless. Tak membiarkan ruangan bebas untuknya bergerak. Membuat Bless sedikit meringis kesakitan menahan kuatnya genggeman atau lebih tepatnya perlakuan kasar ChangMin sedikit membuat Bless tak mampu menahan sakit yang berlebihan dari tangan ChangMin.
“sakit… ChangMin!!!”
“tak akan kulepaskan sampai kau menerimaku sepenuhnya…”
“lepas… sampai kapan pun tak akan merubah pikiranku terhadapmu!!!”
“tidak bisa…!!!”
“lepas shim ChangMin, jangan membuatku marah….”
“aku menyukaimu… dan berapa kali aku harus mengucapnya agar kau percaya!!!”
“diam kau…”
“Bless, aku mencintaimu lebih dari cinta pria itu…”
“jangan sekali-kali kau membandingkan dirimu dengannya!!!”
“aku mencintaimu lebih dari JaeJoong…”
“stop ChangMin sekali lagi kau membandingkan dirimu dengannya. Aku akan menghajarmu saat ini juga…”
“apa…”
“percuma ChangMin kau tak akan merubahku!!!!”
Sekali bantingan tangan ChangMin telah sukses membuat Bless terhempas kedalam tubuh ChangMin. Sehingga dengan leluasa ChangMin memeluk tubuh Bless. Dengan waktu yang tak tepat seorang pria muncul diantara mereka berdua .
“aku mencintaimu lebih dari seorang kim JaeJoong!” lantangnya suara ChangMin membuat ruangan itu berdegung. Dan cukup bagi JaeJoong mendengar hal itu.
Matanya mendapati seorang pria, sorot mata mematikan menatap Bless. Dadanya naik turun menahan amarah. JaeJoong terdiam.
“o-oppa…” Bless terbata dengan tenaga yang tersisa dia melepas pelukan ChangMin. Dan mendorong tubuh tinggi ChangMin sekuat tenaga.
“maaf aku mengganggu acara kalian berdua…” kalimat tajam JaeJoong terlepas sempurna membuat sentakan tiada ujung bagi hatinya. “aku hanya ingin mengembalikan ini…” JaeJoong menyodorkan sebuah gantungan bertuliskan inisial huruf depan dirinya dan Bless.]
Dengan cepat JaeJoong berbalik badan dan pergi dari situ. Samar terdengar suara Bless memanggil dirinya berusaha menahan JaeJoong agar tak pergi. Tapi entah kenapa suaranya makin redam diantara runtuhnya butiran-butiran air langit membasahi tubuhnya. Secepat mungkin dia menghampiri mobolnya lalu pergi dari situ.
Sementara Bless rontahannya seakan percuma terbuang memanggil-manggil nama JaeJoong. Karena kekuatnnya tak cukup mengimbangi 2 pria bertubuh besar yang terus-menerus menahannya. ChangMin yang menyuruh 2 bodyguard miliknya menahan calon istrinya itu agar tak pergi menghadang JaeJoong.
“jaejooong….” Teriak Bless seakan berusaha mengalahkan derasnya hujan.
ChangMin menatap mata Bless, deraian air mata membasahi pelupuk mata Bless. ChangMin sebenarnya tak sabggup menatap wanita yang dicintainya itu menangis pilu.
“sekarang apa maumu…” bentak Bless,
ChangMin bungkam tak menjawab pertanyaan Bless selain pandangan iba padanya.
“puas sekarang… hah???”
ChangMin masih diam. Tanpa berkata dia meninggalkan Bless sambil tertunduk sedih. Tangannya meremas kedua lutut membiarkan air matanya mengalir tanpa ampun diwajahnya.
20 menit tak cukup membuat Bless tenang malah sebaliknya dia semakin takut, entah ada perasaan aneh yang tiba-tiba merasuki otaknya.
Drrttt… drrtt..
Tiba-tiba sebuah panggilan dari Min Gi muncul dilayar posel merahnya. Dengan terbata Bless menjawab “yobosaeyo Min Gi-yah… ada apa??”
Suara Min Gi menjawab “kau dimana sekarang…?” Min Gi bertanya tergesa-gesa.
“dirumah… memangnya kenapa…???”
“babo!!!” maki Min Gi “lihat JaeJoong kecelakaan, dia butuh dirimu sekarang juga…”
“apa!!! Kecelakaan…??!! Kapan…”
“beberapa saat yang lalu!!! Dia terus- menerus mengigau namamu dan sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama YooChun oppa, cepatlah datang…”
Tut tut tut
“Min Gi… Min Gi… asssh…” Bless menutup kasar ponselnya. Dia belari keluar menabrak hujan yang jatuh bebas dari langit. Sepasang mata menatap kepergian Bless ditengah hujan lebat.
Bless POV
Ya Tuhan, kumohon jaga JaeJoong… aku tahu ini semua salah paham… kumohon jangan ambil dia dariku… JaeJoong bertahanlah… JaeJoong …
End of POV
tbc
Beberapa pajangan foto-foto pribadi Soo Young berjejer manis diatas rak merah jambu. Diantaranya ada foto kekasihnya, JaeJoong. Kembali senyuman menghiasi ujung bibirnya mendapati gambar JaeJoong bersama adiknya. Sungguh lucu.
Jam baru saja berdentang pukul 12 tengah malam. Tapi tanda-tanda kantuk belum juga didapatinya apalagi hujan sudah berhenti hanya suara rintik-rintik saling bersahutan di malam penuh kesunyian itu.
Terlintas dibenak Bless untuk memanjakan mata sebelum kantuk menderanya sebentar lagi. Dia berjalan ketepi jendela, perlahan tangannya membuka kaitan jendela lalu membukanya besar-besar membiarkan angin malam menerpa wajahnya.
Dibalkon samar-samar terdengar alunan musik klasik yang dimainkan oleh seseorang. Nadanya terdengar sangat indah masuk kedalam relung hatinya. Sambil menutup mata Bless mencoba mendalami apa maksud dari alunan nada yang tampak begitu melodis senada dengan malam ini. Bahkan petikan-petikan senar piano serasa begitu sempurna bagi Bless.
Bagai dituntun sesuatu Bless berjalan mencari nada-nada yang terbentuk sempurna oleh petikan seseorang yang sangat ahli mempermainkan setiap petikan nada. Langkahnya menuruni tangga perlahan tapi pasti dia akhirnya mengetahui siapa yang sedang bermain piano.
Seorang pria bermata hitam kelam yang melakukanya, JaeJoong. Nada-nada yang terbentuk tercipta dengan sempurna menambahkan suatu gejolak aneh pada diri Bless saat matanya mendapati JaeJoong menutup mata menikmati alunan yang dibuatnya sendiri
“oppa…”
Jari-jari lentik itu terhenti, JaeJoong membuka matanya memandangi Bless. Raut kekaguman tak bisa disembunyikannya.
“kau bisa bermain piano…??”
JaeJoong berdiri menghampirinya tak membalas pertanyaan Bless. Dia menarik perlahan wanita itu dan menuntunnya kepangkuan JaeJoong. Bless hanya terdiam sambil menatap sepasang mata itu.
Kini JaeJoong menghantar tangan Bless menyentuh setiap tuts putih membuat tekanan pada setiap melodi nada menghasilkan sebuah alunan indah. Hangatnya tangan JaeJoong sanggup membuat sang wanita tak bisa berkata-kata hanya nada-nada yang mungkin dapat mewakili setiap perasaannya.
Tarikan nafas JaeJoong terasa sangat menggelitik telinga kanannya ditambah sebuah ciuman mendarat pada tengkuk lehernya. Bless menelan ludahnya berusaha menetralkan keringat dingin yang mulai membasahi keningnya.
“sebuah piano…”
JaeJoong melingkarkan tangan kirinya diperut Bless. Sementara tangan kanannya terus membawa tangan Bless menjamah tuts-tuts putih didepannya.
“setiap nada yang dihasilkan…”
Dagu JaeJoong bersandar diantara leher Bless. Sehingga jarak antara Bless sudah tak ada yang menghalangi hanya helaan nafas kekasihnya dapat dirasakan dengan jelas.
“dapat mewakili setiap perasaan…”
JaeJoong makin mempererat pelukan manjanya.
“seperti anak kecil yang polos…”
JaeJoong kembali menuntun tangan kecil itu membagi tempat pada alunan klasik yang dihasilkan.
“yang tak tahu menyampaikan perasaan…”
JaeJoong kembali mengecup Bless tapi bukan ditengkuk leher melainkan pipinya yang sudah terlanjur merah padam.
“bagai sebuah piano yang bisa menghasilkan nada mewakili perasaan, tanpa harus berkata…”
“…”
….
JaeJoong menjilat daun telinga menghasilkan getaran klasik membuatnya terlonjak hebat menahan sebuah sensasi hebat dari pria yang ada dibelakangnya. JaeJoong.
Dia juga masih sadar saat tangan kiri JaeJoong menuntun wajahnya menghadap kebelakang dan saling berhadapan dengan JaeJoong. Mungkin respon yang didapatinya masih belum membuatnya sadar jika belaian lembut diantara bibirnya adalah sebuah ciuman kedua yang dia dapati tanpa sadar. Apalagi hal ini terjadi pada hari yang sama bersama dengan orang yang sama pula.
Pada akhirnya Bless memberanikan diri melingkarkan tangannya dileher pria berkulit porselen tanpa sedikit pun melepas ciuman. Walau ini sudah tak masuk akal tapi semuanya seakan sudah mencapai titik dimana ‘aku memikinya’ telah tersugesti pasti diotak mereka.
JaeJoong melumat habis daging lembut yang dirasakan membangkitkan sinyal aneh pada otak kanannya. Dia terus menyapu tanpa memberi sedikit pun kesempatan pada wanita yang tampak tak sanggup meladeni permainan JaeJoong.
JaeJoong mempermainkan ujung lidahnya menyapu dinding-dinding rongga mulut Bless memaksa masuk seakan mengajak lidah Bless bermain-main sebentar antara lidahnya. Peraduan mulut dan melumernya saliva diujung mulut mereka dapat menunjukan betapa hebat sebuah permainan JaeJoong.
JaeJoong terus menekan bibirnya ingin mengajak lidah Bless terus-menerus bermain. Tanpa arahan Bless kini nekat membanting semua permainan lidah JaeJoong. Tanpa mereka sadari keduanya sudah terbantin disebelah piano.
Tangannya mulai aktif meremas-remas punggung Bless tanpa ampun. Bless sendiri sudah kehabisan nafas meladeninya.
Perlahan-lahan JaeJoong melepas ciuman panjang itu sambil menarik banyak oksigen yang habis diantara peraduan bibir. Ketika kancing atas Bless sudah terlepas menampakan dada yang nyaris terbuka. JaeJoong sadar perbuatanya hampir mengahancurkan masa depan Bless.
“mbian…” kata JaeJoong sambil tertunduk tak mampu menatap kekasihnya. “aku tak bermaksud ,aku hanya terbawa suasana, mian Bless…”
Bless memegang dagu JaeJoong menatap dirinya. “tidak apa oppa… aku mengerti…”
Tatapan JaeJoong meredup. Bajunya bahkan sudah tidak terbentuk akibat kejadian tadi.
“terima kasih sudah memikirkan ku…”
JaeJoong memeluk Bless bukan dengan nafsu tapi cinta yang terpendam sejak lama. Pelukan segenap hati dari seorang kim JaeJoong.
>>
Paginya Bless diantar JaeJoong kembali kerumah. Bless tak menggubris kehadiran ChangMin yang semalaman menunggunya pulang.
ChangMin berdiri garang menatap Bless tajam sesudah JaeJoong menghantarnya. “adri mana saja kamu… kenapa baru pulang…???” kata ChangMin penuh intimidasi.
“bukan urusan mu…!!!” sahut Bless lalu berlari kekamarnya.
“Bless!!!” ChangMin menarik kasar Bless sehingga tubuhnya tersandar pada ChangMin. Membuat jarak antara dirinya dan ChangMin hanya beberapa sentimeter.
“lepaskan aku bodoh…!!!”
“apa salahku sampai kau sungguh membenciku…!!!” sambar ChangMin, matanya melotot.
“kau mau tahu apa salahmu sampai aku sungguh membencimu?? Huh…??” tantang Bless dihadapan ChangMin. “berhentilah mengawasiku… dan batalkan pertunangan bodoh ini…!!!”
ChangMin dengan kuat meremas tangan Bless. Tak membiarkan ruangan bebas untuknya bergerak. Membuat Bless sedikit meringis kesakitan menahan kuatnya genggeman atau lebih tepatnya perlakuan kasar ChangMin sedikit membuat Bless tak mampu menahan sakit yang berlebihan dari tangan ChangMin.
“sakit… ChangMin!!!”
“tak akan kulepaskan sampai kau menerimaku sepenuhnya…”
“lepas… sampai kapan pun tak akan merubah pikiranku terhadapmu!!!”
“tidak bisa…!!!”
“lepas shim ChangMin, jangan membuatku marah….”
“aku menyukaimu… dan berapa kali aku harus mengucapnya agar kau percaya!!!”
“diam kau…”
“Bless, aku mencintaimu lebih dari cinta pria itu…”
“jangan sekali-kali kau membandingkan dirimu dengannya!!!”
“aku mencintaimu lebih dari JaeJoong…”
“stop ChangMin sekali lagi kau membandingkan dirimu dengannya. Aku akan menghajarmu saat ini juga…”
“apa…”
“percuma ChangMin kau tak akan merubahku!!!!”
Sekali bantingan tangan ChangMin telah sukses membuat Bless terhempas kedalam tubuh ChangMin. Sehingga dengan leluasa ChangMin memeluk tubuh Bless. Dengan waktu yang tak tepat seorang pria muncul diantara mereka berdua .
“aku mencintaimu lebih dari seorang kim JaeJoong!” lantangnya suara ChangMin membuat ruangan itu berdegung. Dan cukup bagi JaeJoong mendengar hal itu.
Matanya mendapati seorang pria, sorot mata mematikan menatap Bless. Dadanya naik turun menahan amarah. JaeJoong terdiam.
“o-oppa…” Bless terbata dengan tenaga yang tersisa dia melepas pelukan ChangMin. Dan mendorong tubuh tinggi ChangMin sekuat tenaga.
“maaf aku mengganggu acara kalian berdua…” kalimat tajam JaeJoong terlepas sempurna membuat sentakan tiada ujung bagi hatinya. “aku hanya ingin mengembalikan ini…” JaeJoong menyodorkan sebuah gantungan bertuliskan inisial huruf depan dirinya dan Bless.]
Dengan cepat JaeJoong berbalik badan dan pergi dari situ. Samar terdengar suara Bless memanggil dirinya berusaha menahan JaeJoong agar tak pergi. Tapi entah kenapa suaranya makin redam diantara runtuhnya butiran-butiran air langit membasahi tubuhnya. Secepat mungkin dia menghampiri mobolnya lalu pergi dari situ.
Sementara Bless rontahannya seakan percuma terbuang memanggil-manggil nama JaeJoong. Karena kekuatnnya tak cukup mengimbangi 2 pria bertubuh besar yang terus-menerus menahannya. ChangMin yang menyuruh 2 bodyguard miliknya menahan calon istrinya itu agar tak pergi menghadang JaeJoong.
“jaejooong….” Teriak Bless seakan berusaha mengalahkan derasnya hujan.
ChangMin menatap mata Bless, deraian air mata membasahi pelupuk mata Bless. ChangMin sebenarnya tak sabggup menatap wanita yang dicintainya itu menangis pilu.
“sekarang apa maumu…” bentak Bless,
ChangMin bungkam tak menjawab pertanyaan Bless selain pandangan iba padanya.
“puas sekarang… hah???”
ChangMin masih diam. Tanpa berkata dia meninggalkan Bless sambil tertunduk sedih. Tangannya meremas kedua lutut membiarkan air matanya mengalir tanpa ampun diwajahnya.
20 menit tak cukup membuat Bless tenang malah sebaliknya dia semakin takut, entah ada perasaan aneh yang tiba-tiba merasuki otaknya.
Drrttt… drrtt..
Tiba-tiba sebuah panggilan dari Min Gi muncul dilayar posel merahnya. Dengan terbata Bless menjawab “yobosaeyo Min Gi-yah… ada apa??”
Suara Min Gi menjawab “kau dimana sekarang…?” Min Gi bertanya tergesa-gesa.
“dirumah… memangnya kenapa…???”
“babo!!!” maki Min Gi “lihat JaeJoong kecelakaan, dia butuh dirimu sekarang juga…”
“apa!!! Kecelakaan…??!! Kapan…”
“beberapa saat yang lalu!!! Dia terus- menerus mengigau namamu dan sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama YooChun oppa, cepatlah datang…”
Tut tut tut
“Min Gi… Min Gi… asssh…” Bless menutup kasar ponselnya. Dia belari keluar menabrak hujan yang jatuh bebas dari langit. Sepasang mata menatap kepergian Bless ditengah hujan lebat.
Bless POV
Ya Tuhan, kumohon jaga JaeJoong… aku tahu ini semua salah paham… kumohon jangan ambil dia dariku… JaeJoong bertahanlah… JaeJoong …
End of POV
tbc
